profil

Kamis, 02 September 2010

PERANAN FITOPLANKTON LAUT DALAM KEHIDUPAN



Oleh:
Muh. Farid Samawi
NRP. P062020121
E-mail: Farids02@yahoo.com

Pendahuluan


            Tuhan menciptakan mahluk dengan tujuan tertentu, baik yang hidup maupun yang mati, yang besar maupun yang kecil semua mempunyai peranan dalam kehidupan ini. Mahluk yang sangat kecil sekalipun seperti bakteri, virus dan plankton mempunyai fungsi khusus didalam kehidupan. Apabila dimusnahkan atau digantikan akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang akhirnya mengalami kerusakan.
            Plankton sebagai organisme yang sangat kecil memiliki ukuran 0,45 mm yang tak nampak oleh mata telanjang dan tersebar luas diperairan tawar dan laut. Plankton ini terdiri dari plankton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fitoplankton). Dalam struktur piramida makanan, fitoplankton sangatlah penting karena menempati posisi sebagai produksi primer.
            Kedudukan fitoplankton sebagai produksi primer dengan kandungan nutrisi yang tinggi terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak serta asam lemak telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain dalam bidang perikanan, farmasi dan makanan suplemen. Organisme ini diisolasi kemudian dibudidayakan secara intensif untuk mendapatkan monospesis dengan kepadatan tinggi.

 

Tujuan Penulisan

            Penulisan ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai mikroorganisme fitoplankton laut yang mempunyai peranan sangat besar bagi kehidupan.

 

Pengertian

Apakah fitoplankton itu ? Merupakan pertanyaan yang harus dijawab untuk menjelaskan pengertian fitoplankton. Fitoplankton menurut Davis (1951) adalah mikroorganisme  nabati yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaanya dipengaruhi oleh gerakan air serta mampu berfotosintesis. Organisme planktonik ini biasanya ditangkap menggunakan jaring, berdasarkan ukuran mata jaring maka fitoplankton digolongkan berdasarkan ukuran yaitu: megaplankton ialah plankton lebih besar dari 0,2 mm ; yang berukuran 0,2 mm – 2,0 mm digolongkan  makroplankton ; mikroplankton ialah plankton yang berukuran 20 mm – 0,2 mm. Sedangkan plankton yang tidak dapat ditangap dengan jaring tetapi dengan filter milipor adalah nanoplankton ialah plankton sangat kecil yang berukuran 2 mm – 20 mm dan ultraplankton yaitu oplankton yang berukuran lebih kecil dari 2 mm.   

 

Taksonomi dan Morfologi Fitoplankton Laut

            Pada perairan laut terdapat tiga belas kelas (Tabel 1), diatom dan dinoflagellata merupakan golongan besar dan tersebar luas di laut, baik perairan pantai maupun lautan.


Tabel 1. Klasifikasi fitoplankton laut (Parson et al, 1984)

Taksonomi (kelas)
Nama umum
Area yang dominan
Cyanophyceae
Alga biru hijau
Tropik, cosmopolitan
Rhodophyceae
Alga merah
Jarang, Pantai
Bacillariophyceae
Diatom
Seluruh perairan laut, khususnya pantai
Cryptophyceae
Cryptomonad
Cosmopolitan, khususnya pantai
Dinophyceae
Dinoflagellata
Seluruh perairan laut, khususnya daerah tropis
Chrysophyceae
Crysomonad
Silicoflgellata
Jarang, pantai
Kadang-kadang melimpah
Haptophyceae
Coccolithopor
Prymnesiomonad
Lautan (coccolit)
Pantai (prymnesio)
Raphidiophyceae
Chloromonad
Jarang, tetapi kadang-kadang melimpah, payau
Xanthophyceae
Alga kuning hijau
Jarang
Eustigmatophyceae
-
Jarang
Euglenophyceae
Euglenoid
Pantai
Prasinophyceae
Prasionomonad
Seluruh perairan laut
Chlorophyceae
Alga hijau
Volvocales
Jarang , pantai



Gambaran morfologi beberapa fitoplankton yang dominan diperlihatkan pada Gambar 1 berikut:


Gambar 1. Beberapa genera fitoplankton laut. Diatom: (1) Rhizosolenia, (2) Chaetoceros, (3) Navicula, (4) Thalassiosira, (5) Skeletonema, (6) Coscinodiscus. Dinoflagellata: (7) Ceratium, (8) Peridinium, (9) Dinophysis, (10) Gonyaulax, Kokolitopor: (11) Cocolithus, (12) Tricodesmium.

 

 

Reproduksi Fitoplankton Laut

            Proses reproduksi fitoplankton laut dilakukan melalui pembelahan diri menjadi dua. Contoh pada diatom (Gambar 2A), epiteka (katub atas) terlepas dari hipoteka (katub bawah). Tiap belahan katub akan membentuk katub atas atau katub bawah baru (Gambar 2B). Proses pembentukan katub ini cukup lama, sehingga beberapa generasi berukuran lebih kecil. Pemulihan ukuran dilakukan melalui pembentukan oksospora.  


 

Gambar 2.  A. Struktur sebuah diatom. B. Proses pengecilan ukuran diatom dan pemulihan ukuran melalui pembentukan oksospora

 

Komposisi Kimia Fitoplankton Laut

            Tabel 2 memperlihatkan persentase protein, karbohidrat dan lemak yang ditemukan pada spesis fitoplankton laut selama proses pertumbuhan. Kandungan protein tertinggi ditemukan pada spesis Tetraselmis maculata  sedangkan kandungan karbohidrat dan lemak tertinggi pada spesis Amphidinium carteri . berdasarkan komposisi monosakarida pada fitoplankton laut diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 2. Komposisi hasil metabolisme utama fitoplankton

Spesis
Volume (m3c)
Abu berat kering (%)
Protein
KH
Lemak
Prasinophyceae

Tetraselmis maculata


310

68

20

4
Chlorophyceae

Dunaniella salina


400

58

32

7
Bacillariophyceae

Skeletonema costatum


1390

58

33

7
Chrysophyceae

Monochrysis lutheri


28

53

34

13
Dinophyceae

Amphidinium carteri

Exuviaella sp

740
780

36
35

39
42

23
17
Myxophycea

Agmenelium quadeuplictum


1,5

44

38

16

 

 

Tabel 3. Komposisi monosakarida hasil hidrolisa sel alga (Parson et al. 1984)



Serat kasar (% KH)

Gula dasar (% berat kering sel)

Glukosa

Galaktosa

Mannosa

Ribosa

Xylosa

Arabinosa

Rhamnosa

Fukosa

Fruktosa

Hexosamina

Asam Heksuronik

CHLOROPHYCEAE

Dunaniella salina

 

9,8

 

17,2

 

11,8

 

-

1,7

 

-

 

-

 

-

 

-

 

-

 

-

 

+

PRASINOPHYCEA

Tetraselmis maculata

 

12,6

 

11,9

 

2,3

 

-

0,95

 

-

 

-

 

-

 

-

 

-

 

-

 

+

CHRYSOPHYCEAE

Monochrysis lutheri

 

3,6

 

22,1

 

4,4

 

-

1,3

 

3,5

 

-

 

-

 

-

 

-

 

-

 

+

HAPTOPHYCEAE

Syracosphaera carterae

 

1,7

 

9,2

 

7,1

 

-

1,5

 

0,8

 

1,9

 

-

 

-

 

-

 

-

 

+

BACILLARIOPHYCEA

Chaetoceros sp
Skeletonema costatum
Coscinodiscus wailsii
Phaeodactylum tricornutum

 

22,8
9,6
29
2,5

 

3,3
16,4
2,1
10,7

 

1,5
1,8
0,4
2,7

 

0,79
0,87
0,41
3,7

0,71
1,2
+
0,72

 

0,4
-
-
0,7

 

-
-
-
-

 

2,8
1,0
0,7
1,5

 

+
0,9
0,5
-

 

-
-
-
-

 

-
-
-
-

 

+
+
+
+

DINOPHYCEAE

Amphidinium carteri
Exuviaella sp

 

2,0
37,0

 

19,0
26,8

 

8,4
8,3

 

-
-

0,9
+

 

-
+

 

-
+

 

+
+

 

-
-

 

-
-

 

-
-

 

-
-

MYXOPHYCEAE

Agmenellum quadruplicatum

17,4

17,4

3,2

-

1,5

-

-

-

 

-

3,5

0,3

+
Keterangan: + gula dideteksi tapi tidak diestimasi  - gula tidak terdeteksi

 

Penyebaran Fitoplankton Laut

            Fitoplankton biasanya berkumpul di zona eufotik yaitu zona dengan intesitas cahaya masih memungkinkan terjadinya proses fotosintesis (Arinardi dkk., 1997). Pada suatu perairan sering dijumpai kandungan fitoplankton yang sangat melimpah akan tetapi pada tempat yang lain sangat sedikit. Keadaan ini disebabkan oleh bermacam-macam faktor antara lain angin, arus, nutrien, variasi kadar garam, kedalaman perairan, aktivitas pemangsaan serta adanya percampuran massa air (Davis, 1955). 

Peranan Fitoplankton Laut

            Fitoplankton memiliki zat hijau daun (klorofil) yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air. . Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut, fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton baik masih kecil maupun yang dewasa. Selain itu juga dapat digunakan sebagai indikator kesuburan suatu perairan. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan. 
            Dewasa ini fitoplankton laut telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia antara lain:
1.      Bidang perikanan
Sebagai makanan larva ikan, dilakukan melalui isolasi untuk mendapatkan satu spesis tertentu, misalnya Skeletonema. Kemudian dibudidayakan pada bak-bak terkontrol pada usaha pembibitan ikan untuk keperluan makanan larva ikan.
2.      Industri farmasi dan makanan suplemen
Fitoplankton yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi digunakan sebagai makanan suplemen bagi penderita gangguan pencernaan dan yang membutuhkan energi tinggi. Contoh produk yang beredar dari jenis Chlorella.
3.      Pengolahan limbah logam berat
Dalam pengolahan limbah logam berat fitoplankton dapat digunakan untuk mengikat logam dari badan air dan mengendapkannya pada dasar kolam. Sehingga logam dalam air menjadi berkurang.

Daftar Pustaka


Angka, S.L. dan Maggy. T.S. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut, IPB, Bogor.
Arinardi, O.H., A.B. Sutomo, S.A. Yusuf, Trianingnsih, E. Asnaryanti dan S. H. Riyono. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta. 
Davis, C.C. 1951. The Marine and Freshwater Plankton. Michigan State University Press, USA.
Nybakken, J.W. 1982. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa H. Muh. Eidman. PT. Gramedia, Jakarta.
Parsons, T.R. Masayuki, T. dan Barry H., 1984. Biological Oceanographic Processes. 3rd Edition. Pergamon Press, Oxford.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar